• The Real Generations

    Ini semua gara-gara tukang listrik yang ga tau siapa itu nama bapaknya. Udah dari tanggal 15 Mei 2012 kalo ga salah, sampai detik ini juga, headset saya belom juga dibetulin juga. Mau marah-marahin, saya ga tega sama bapaknya. Mau saya ambil lagi, headset saya tetep aja jadi rusak, terpaksalah saya menunggu itu si putih hello kity alias headset saya dibetulin. Jadi bikin saya BT deh. Sebenernya hari ini saya lagi stress berat, entah apa yang bikin saya stress, bawaannya ga napsu mulu. Fiyuh. Biasanya kalo saya lagi pundungan gini, si putih hello kity lah yang bisa menghibur saya, ditemani juga dengan si baba alias notebook saya yang kulitnya hitam legam. Dengan adanya mereka, hati saya sedikit terobati. Pengen tereak, tapi takut dikeroyok satu asrama. Pengen kehutan yang ada dibelakang asrama tapi takut banyak serangga yang siap menerkam saya kapanpun. Mau pulang kerumah, tapi saya masih ada jadwal kuliah. Mau beli eksrim tapi ga ada yang mau beliin. Mau jalan-jalan, tapi saya lagi males nyetir motor sendiri. Mau ngejailin orang, tapi ga ada yang mau dijailin. Mau sms-an tapi lagi males ngetik. Mau tidur, tapi mata lagi males merem. Mau ngacak-ngacak rambut, tapi ternyata rasanya sakit. Akhirnya tak ada pilihan lain, pelampiasan saya hanya kepada blog saya tercinta ini. Dialah rumah dunia maya saya, yang bisa saya singgahi kapanpun. Kepada "The House of Armala" dipersilahkan untuk naik keatas panggung. Ceritanya dia udah naik, terus kasih sambutan bentar, abis itu turun lagi, terus jadi rumah lagi, dan ga bergerak lagi. Gila gue lama-lama, nulis geje begini. Ini semua salah lo, siapa suruh baca tulisan gue. Pergi sana! Kali ini gue akan selalu menyalahkan lo. Gue teriak disini aja lah, atu, dua, tiga, huuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa "mulut terbuka lebar, mata melotot, pengen gigit orang". Fiyuh, sudah cukup untuk teriakan gue kali ini, kita akan lanjutkan untuk teriak kapan-kapan lagi. Awal cerita dimulai, barusan cuma intermezo aja. Karena saya lagi kesel, maka kata saya akan diubah menjadi kata gue. Jangan ada yang protes, kalo protes silahkan keluar dari blog ini. Gue lagi sebel soalnya.

    Pagi tadi gue pergi ke UGM, boncengan naik motor sama temen gue. Lagi-lagi gue yang nyetir. Gue suka ama jalanan dijogja, mulus banget kaya kulit bayi. Jadi bisa ngebut deh gue. Tapi yang bikin gue kaya kambing conge' itu loh, lampu merahnya, ga nahan pisan euy. Sabar 45 gue nunggu. Macet sih kaga tapi, lampu merah disetiap sudut selalu ada. Dengan kecepatan 80km/jam akhirnya nyampe UGM pukul 10.30 kalo ga salah. Acara yang gue hadiri tentu aja bukan acara wisudaan apalagi pernikahan. Acaranya ga kalah seru sama acara dasyatnya RCTI, acara inboxnya SCTV ama acara-acara lainnya yang kam-su-u-pay-an semua. haha. Emang ini acara khusus buat para muslimah sejogja. Temanya sih tentang "Mewujudkan Jogja Sebagai Kota Pendidikan dan Budaya yang Kondusif bagi Lahirnya Generasi Cemerlang" kurang panjang? silahkan tambahin sendiri yak. Itu aja gue catet di note hp, kalo kaga, mana ada gue inget itu tema. Pembicaranya langsung didatangkan dari britain, alias london, alias inggris punya. Beliau dikasih nama sama orang tuanya "Nazreen Nawaaz". Gue juga ga tau itu apa artinya. Gue belom pernah menanyakan sendiri sih artinya kepada beliau. Status beliau sepertinya sudah menikah, tapi rupanya pada saat itu suami dan anaknya tidak dibawa ke Indonesia. Beliau itu ke Indonesia bukan sekedar buat holiday cuy, beliau membawa misi besar untuk perubahan umat manusia. Dari tanggal 20 Mei kemarin beliau udah ada di Jakarta, jadi salah satu pembicara acara Konferensi Intelektual Muslimah untuk Bangsa. Sayangnya gue ga ikut pas acara itu, karena gue musti akting, hehe. Tapi, biarpun ga ikut, gue dapet cerita banyak dari temen gue. Subhanallah lah pokoknya. 

    Nah kalo pagi tadi, beliau udah nyampe di UGM, ngasih Studium General kepada para intelektual muslimah, khususnya mahasiswa. Ngomongnya britis abis cuy, gue ampe merem-melek dengerin omongan beliau yang sangat luar biasa itu. Intinya sih tentang generasi cemerlang. Kalo pendidikan sekarang itu ga bisa melahirkan generasi yang cemerlang. Buktinya apa? Silahkan lihat aja kepada diri anda masing-masing? Ngaku Islam, tapi pengetahuan tentang agama pun sangat minim. Malah ada yang jelas-jelas memusuhi agamanya sendiri, ga mau nurut sama aturan Allah-lah, mengagung-agungkan hukum yang buatan orang kafir barat-lah. Sampai rela jadi agen barat yang bisa dibayar oleh uang. Ditambah lagi, jaman sekarang begini, pendidikan bukan dipandang sebagai kebutuhan pokok setiap warga negara, tapi malah dijadikan alat komoditi yang orientasinya cuma sama materi, duit lagi, duit lagi. Udah mah mahal, tapi malah semakin membuat generasi terjungkal. Terjungkal buat hidup bebas sesuka hatinya, pacaran sana sini, seks bebas kesana kemari, budaya yang semakin terkikis. Mahasiswa disubukkan dengan study orientednya, hedonisnya, individualismenya, tanpa ada dorongan untuk mengubah kondisi yang lagi kacau balau kaya sekarang. Idealisme semakin lama semakin hari, musnah begitu saja, dengan berbagai godaan rayuan dunia having fun. Ogah mikirin bangsa ini, asyik dengan dunianya sendiri, udah mirip kaya orang autis saja kalu begitu jadinya. Semua pragmatis, sampai akhirnya kritis, dan tenggelam pada dunia iblis. Lalu seperti apakah The Real Generations yang sesungguhnya? Ini bukan bahas tentang girl generation loh ya, cerita kita kali ini adalah The Real Generations! Catet tuh.

    Emang ga bisa dipungkiri sih, selain Islam apa coba yang bisa menyelesaikan masalah dimuka bumi ini. Sosialisme? Owh ya? Dia itu sangat menyiksa akal, sangat memaksakan kehendak, sudah lama sekali dia musnah begitu saja, karena dinilai tidak sesuai dengan fitrah manusia, tidak memuaskan akal, dan tidak menentramkan hati. Coba aja bayangkan, gimana jadinya kalo semua manusia dibumi ini dianggap sama, ga boleh ada yang kaya, dan ga boleh ada yang miskin. Padahal sejatinya, manusia tuh punya keinginan untuk jadi kaya. Dan Islam membolehkan itu, why not gitu? Kalo kapitalisme gimana? Hellow... liat dong, belom satu abad aja dia udah mulai menimbulkan penyakit-penyakitnya. Terlalu over dosis sih, semua serba dibebaskan. Hingga agama pun dipisahkan dari kehidupan. Over dosis sama duit. Ga pendidikan, ga kesehatan semua dijadikan alat berbisnis ria. Dengan sejuta dalih untuk kepentingan ini itu dan semacamnya. Sogokan sana sini diterima juga hanya sekedar untuk membebaskan tahanan para koruptor kelas kakap. Meloloskan mahasiswa untuk bisa masuk ke universitas bergengsi. Hukum rimba segalanya. Yang punya modal, dia yang berkuasa. Sungguh kejam memang. Satu-satunya tinggal Islam cuy. Islam bukan sekedar agama, tapi juga aturan kehidupan. Way of life. Islam ga akan memisahkan agama dari kehidupan, justru kehidupan lah yang harus terus berstandar pada agama, pada hukum Allah. Islam mampu memberikan ketentraman dihati manusia, sesuai dengan fitrah manusia dan memuasakan akal. The Real Generations hanya bisa dilahirkan jika yang digunakan adalah sistem Islam. Karena dalam Islam, generasi yang cemerlang itu adalah yang punya kepribadian khas. Khas dengan pola pikir dan pola sikap yang serba Islami. Sejarah mencatat lahirnya Ibnu Sina, yang sama dokter-dokter diseluruh dunia mengenalnya sebagai sang bapak kedokteran. Al-khawarizmi sang penemu ilmu matematika. Al Biruni sang ahli dibidang fisika dan astronomi. Jabir Ibn Hayyan sang ahli kimia. Al Mas'udi sang ahli geografi dan sejarah. Ga kalah populernya juga Imam syafi'i, hambali, hanafi, maliki, semua dari mereka ahli dalam ilmu tauhid. Selain mereka menguasai semua bidang, yang lebih kerennya lagi, mereka semua penghafal al'qur'an dengan baik cuy. Hafal Al'qur'an semua beserta artinya. 

    Pernah juga gue baca sejarah Islam, dimana kalo ada orang yang nulis buku, maka akan dihadiahkan oleh negara, emas seberat timabangan buku yang dia tulis itu. Ga heran kalo ulama-ulama kita terdahulu, hobi banget nulis kitab sampe berjilid, berseri, berepisod-episod banyaknya. Isinya? Isinya jangan ditanya, semua kata didalamnya sangat berbobot dan mengandung unsur sastra yang sangat tinggi. Dari cuma nulis buku aja udah bisa bikin jadi kaya. Gimana orang-orang pada ga mau. Perbandingan begitu berbeda jika yang diterapkan dibumi ini juga berbeda. Kalo gue mah, tetep pilih Islam sebagai satu-satunya solusi untuk permasalahan umat manusia.

    23.48
    yang lagi kesel, tapi endingnya cerita segini banyaknya, haha

4 komentar:

  1. Sabto Hutomo mengatakan...

    bagus jua tulisan ello
    gimana kalau ngikutan kayak raditya dika
    bisa terkenal tuh
    dan mestinya bisa nyumbang buat hamfara juga...
    he.he.he

  2. Jeng Armala mengatakan...

    sabto@ doakan saja ya, biar gue sehat selalu dan bs nulis terus

  3. Anonim mengatakan...

    yow ar. be shining generations..
    generasi cemerlang. bukan generasi cemen, generasi copas, n generasi bebek..

  4. Jeng Armala mengatakan...

    anonim@ ini kayaknya bahasanya si iffah deh. koq ga tulis nama sih sih if?

Search