• Antara PemiLu dan PemiLkama

    Entah kenapa setiap kali saya duduk anteng dan berseluncur didunia maya, kaki saya selalu saja dingin dan berkeringat. Kalo kata ibu saya, udah mirip kaya suhu mayat. Hahaha. Ada yang bilang kalo telapak tangan dan kaki sering berkeringat tandanya katanya lemah jantung. Itu saya buktikan sendiri, lewat terapis yang ahli dibidangnya. Cuma dengan melihat mata dan telapak tangan saya, dia udah tau, saya lemah disini, disitu, dan dimana-mana. Wow ternyata saya banyak penyakit juga yak. Tapi tenang, saya tetap setia mengkonsumsi si habatusauda setiap sebelum bobo. Lumayan lah buat suplemen tubuh. Yah, namanya juga hidup di jaman kapitalis kaya sekarang ini, makanan kebanyakan ga ada yang sehat, adaaa aja sisi negatifnya. Berasnya pake pemutih, sayurnya pake peptisida, buahnya juga kebanyakan impor. Mau yang instan banyak MSG-nya, mau yang alami serba mahal en susah nyarinya. Jadilah banyak orang penyakitan di Indonesia ini. Jajanan juga dimanipulasi sedemikian rupa, pake pewarna baju lah, pake gula biang lah, pake minyak plastik lah, serba asal pokoknya, tanpa melihat jangka panjangnya. Yang penting menguntungkan, kenapa tidak? Begitulah cara pandang orang kapitalis. Memikirkan keuntungan diri sendiri tanpa melihat efek buruk bagi orang lain.

    Weits, tadi cuma intermezo aja koq. Biasa, saya kan sukanya curcol dulu. Jadi bagi kamu-kamu yang sudah terbiasa dengan cerita saya, ga heran bin ga kaget. Yups, lanjut yak. Kamu inget ini tanggal berapa? tepatnya dimana cerita ini saya luncurkan diblog saya tercinta ini. Dan, taraaa tanggal 30 Mei 2012 adalah dimana hari-hari penuh kampanye dikampus saya. Pas saya keluar asrama, ternyata sudah banyak photo-photo calon ketua BEM berserakan dimana-mana. Diparkiran, ditangga akhwat, dikantin, dipohon ceri yang ada sumurnya sampe didepan kamar mandi asrama akhwat, itu photo ditempel dimana-mana. Memang ini sudah waktunya ganti kepengurusan BEM tahun lalu. Kalo dalam istilah yang biasa kampus saya katakan adalah PEMILKAMA (Pemilihan Ketua Mahasiswa) ato bahasa populernya pemilihan ketua BEM. 

    Saya sebenernya rada males juga sih, mereportasekan kegiatan ini. Berhubung yang mencalonkan adalah angkatan saya, maka spesial lah saya reportasekan dalam blog saya. Calon ketua BEM STEI HAMFARA periode 2012-2013 jatuh kepada dua orang teman seangkatan saya yang beda jurusan. Namanya Riza Pahlawi jurusan keuangan dan perbankan syariah dan Wahyudi Supriyanto jurusan manajemen syariah. Dua kandidat ini sama-sama punya tim sukses diluar batas normal, kalo kata saya. haha. Pagi-pagi saya sudah dikagetkan dengan slogan-slogan yang ga nahan banget. Tim sukses dari Wahyudi, saking kreatifnya bikin tulisan "Yudi Anti Galau" ditambah lagi "Satu Hati, Satu Misi, Satu Visi, Bersama Yudi" plus ditempel dibatang pohon ceri yang lokasinya strategis banget. Yang kayaknya semua orang yang mau ngampus bisa baca tulisan itu. Wow, saya juga sempet ngakak sih bacanya, haha. 

    Nah buat tim sukses dari Riza Pahlawi rupanya ga mau kalah. Biarpun rada kebanting sih, kalo dari sisi tempel photo, tapi se-enggaknya ada tampangnya lah. Kalo yang ini, slogan dari tim suksesnya rada merakyat "Tegas dan Bersahabat, Menyatukan Semua Golongan". Emang ga narsis kaya tim sukses sebelumnya sih. Dan kalo dilihat visi misi dari keduanya jauh berbeda banget. Ga perlu lah saya tulis disini, entar malah dicopas sama kamu lagi.haha. Apa mereka dapet bayaran? Oh jelas tidak, wong calonnya aja cuma seorang mahasiswa yang belom pada punya pekerjaan. Mau dibayar pake apa mereka?

    Baru kali ini saya menemukan kampanye dikampus saya yang sehebring ini. PEMILKAMA tahun sebelumnya itu adem ayem banget. Sehari menjelang pemilihan saya baru tau orangnya. Gimana enggak, orangnya aja jarang nongol dikampus, entah kemana orang-orang itu, tanyakan saja sama mereka. Angkatan saya emang hebring kali ya, terutama ikhwannya. Kalo akhwatnya hebringnya cukup didalam asrama saja. Terus apa hubungannya sama pemilu? Weits, jelas tentu ada. 

    Ini cerita emang sama-sama dalam rangka pemilihan. Sama-sama milih siapa yang akan jadi kepala. PEMILKAMA buat kepala mahasiswa, sedangkan PEMILU buat kepala negara. Tapi, dimana ada persamaan, pasti juga ada perbedaan. Dan itu sangat jungkir balik sekali. Sok aja lihat, gimana semaraknya PEMILU yang lalu-lalu. Kampanye dimana-mana. Bendera partai nyantol ditiang-tiang disepanjang jalan tol, lampu merah, pasar, jalan umum, sampe gang-gang perumahan. Panggung gembira pun digelar dikampung-kampung dengan mengundang penyanyi-penyanyi dangdut yang kapan aja bisa disawer buat meliuk-liukkan goyangannya. Bagi-bagi sembako dan uang sebesar 5ribu rupiah pun dilakukan, demi untuk meraih suara rakyat. Cuma dengan dikasih kaos satu biji, rakyat rela milih capres dari partai tertentu. Tanpa tau apa yang nantinya akan mereka lakukan pada rakyat-rakyat itu. 

    Uang yang dihamburkan, tentu tidak sedikit. Bahkan rela mengeluarkan bertrilyun-trilyun hanya untuk meraih kekuasaan. Mereka pikir, kalo nanti terpilih jadi presiden akan balik modal. PEMILU dijadikan ajang bisnis. Urusan kebijakan apa yang akan mereka terapkan, adalah urusan belakangan. Seolah-olah kebijakan bisa dibeli, dan menjadi barang komoditi yang bisa diperjual belikan. Lihat saja, itu freepot di irian jaya sana, sampai kapan mereka perpanjang itu kontrak? bahkan sampai dua gunung emas habis dikeruk pun, kontrak bisnis antara pemerintah dan asing belumlah usai. Dan selalu saja mengecewakan rakyatnya, janji-janji akan mensejahterakan rakyat seolah terlupakan oleh ingatan mereka. Mungkin yang mereka ingat adalah, gimana caranya supaya balik modal bekas kampanye kemarin. 

    Yang saya takutkan dalam memilih presiden adalah kebijakan yang diterapkan kepada rakyatnya. Apakah si presiden itu bikin kebijakan baru yang emang jelas-jelas cuma buatan manusia atau menerapkan kebijakan dari yang menciptakan manusia, yang emang udah tau cara mengatur manusia. Sayangnya, selama ini belum ada saya dengar, capres-capres yang punya visi misi seperti itu. Makanya saya golput deh. Kamu kira jadi presiden itu enak? Yang buat ongkos bajunya aja sekian juta. Fasilitas yang serba ada, dapet perlindungan khusus lagi. Kalo yang ada dalam pikiran kamu kaya gitu, siap-siap aja deh, pertanggung jawaban diakhirat sana telah menanti kamu. Yang saya tahu, jadi kepala negara itu tugasnya adalah mengurusi urusan umat. Bukan malah menyengsarakan umat. Saya tahu dari kisah sejarah. Siapa lagi kalo bukan jagoan umat Islam, Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah sosok kepala negara yang senantiasa mengurusi urusan umatnya. Mana ada, beliau punya rumah mewah, pakean bagus, gaji berlimpah. Justru hidup beliau, penuh dengan kesederhaan, pakaian yang seadanya, dan mencari nafkah dengan cara berdagang. Namun, dengan cara yang seperti itu beliau berhasil menyebarkan Islam ke seantero dunia dimuka bumi ini. 

    Sosok pemimpin dijaman kapitalis sekarang, ga mencerminkan sosok pemimpin yang sesungguhnya. Pesan Rasulullah buat umatnya aja sebelum wafat adalah manusia yang berpegang teguh pada al-qur'an dan as-sunnah lah yang akan selamat diakhirat sana. Saya kesel banget sama Pak SBY, koq tega-teganya menjual kekayaan alam Indonesia sama orang asing. Padahal kalo itu SDA dikelola sama negeri sendiri, rakyat Indonesia akan terbebas dari kemiskinan. Selama masih ada campur tangan asing dinegeri ini, Indonesia makin melarat dan ga maju-maju. Dan selama hukum Allah belum diterapkan dimuka bumi ini, seluruh dunia akan menikmati dosa. 

    21.55
    bingung, jadi mau pilih siapa? 

4 komentar:

  1. Adinda Dini Sari mengatakan...

    seandainya punuk bisa memeluk bulan... hiks :,(

  2. Jeng Armala mengatakan...

    mba dim@ ga ngerti mba

  3. Anonim mengatakan...

    Wah, tlapak2 brkrgt dngn trnyta bs d cgah, tp pke prasaan,. Kl0 ht tnang biasax kringt g akn kluar,,

  4. Jeng Armala mengatakan...

    anonim@ hati saya udh tenang, tapi koq masih aja suka keringetan. emang bawaan dari kecil kali ya

Search