• Cukup Dengan Kata "MAAF"

    Penuh dengan tanda tanya ketika teman saya tulis status difacebook khususnya di grup angkatan. Isinya ternyata perwakilan dari para akhwat 2010. Loh, saya aja, lagi ga ada dikampus, tiba-tiba muncul status yang jadi tranding topic 2010 pada saat itu. Setelah saya sampe asrama, ternyata ibu-ibu udah pada ribut, ternyata memang benar, masalah status klarifikasi itu. Saya tanya sana-sini, barulah saya dapet penjelasan yang mendetail dari para akhwat yang merasa tersinggung. Ternyata kejadiannya pas lagi acara Studium General dikampus saya. Bukan ulah Bapak pembicaranya, bukan juga MCnya ato pembaca tilawahnya. Saat itu emang saya ga ada dilokasi, cuma diceritain aja sama temen saya.

    Ceritanya begini, karena si bapak pembicara pengisi SG belom dateng, entah inisiatif siapa saya ga tau, ternyata ada hiburan dadakan persembahan ikhwan 2010. Saya yakin, satu hamfara sudah pada tau, pelopor stand up comedy di hamfara adalah ikhwan ini. Saya ga akan menyebutkan nama lengkapnya, mau yang nulis status, mau yang komen distatus itu, atau siapapun yang bersangkutan dalam tranding topic pada saat itu. Karena yang saya pahami, tata cara tabayyun yang shahih, yang diajarkan dalam Islam itu, jangan sampe aib orang yang mau kita tabayyuni diketahui oleh orang lain. Jangan sampe, melalui jalur yang salah. Jangan sampe, yang main malah baqo'.. hukum syara' tidak dijadikan standar lagi. Islam punya aturan sendiri untuk urusan klari-mengklarifikasi. Nama memang penting, tapi lebih penting pemikiran yang dibawa oleh nama ini. Yang akan menentukan Syaksiyah Islamiyah dalam dirinya. 

    Lanjut cerita, ketika stand up comedy sedang berlangsung, isi yang disampaikan hampir sama dengan comedy-comedy yang dibawa oleh Raditya Dika. Salah satu orang yang terkenal gara-gara blog pribadinya yang isinya cerita kehidupan dia sehari-hari. Dengan bahasa yang konyol, cerita seputar percintaan, dan hal apapun lainnya yang pengen dia bahas, maka diterbitkanlah buku pertamanya itu dengan judul "Kambing Jantan". Jujur, saya belom sempet baca itu buku. Jadi ga tau isinya. Biarlah mau dibilang ga up date juga ga apa-apa, yang penting saya up date tentang masalah umat yang lagi terdzolimi sama sistem kapitalisme sekarang ini. Setelah bukunya terbit, Radit mulai dipanggil dicafe-cafe untuk menceritakan isi bukunya ke tengah publik. Dengan ekspresi yang sesuper-supernya dia keluarkan, menirukan gaya-gaya iklan, orang, atau apapun yang dia anggap aneh dan alay. Akhirnya bermunculan Radit-radit selanjutnya. Yang membedakan hanya, nama, wajah, komedi yang disampaikan, dan otodidak aja. Alias cuma modal coba-coba ajah, ga usah perlu repot-repot nulis blog pribadi apalagi nerbitin buku. Itulah salah satu hobi anak muda, yang emang pengen dianggap eksis dan diketahui keberadaannya. Tanpa menyaring apa yang disampaikan, apakah menyakiti orang lain atau tidak, kata-kata spontan yang keluar akan dihisab atau tidak, isi yang disampaikan berlandaskan ideologi yang khas atau tidak, menyeru amar ma'ruf atau tidak. Dan lain sebagainya. Saya disini, bukan sok menggurui atau sok bener sendiri. Tapi saya hanya menyampaikan pandangan saya tentang stand up comedy itu sendiri. 

    Saya pernah dapet cerita dari adik kelas saya. Ikhwan ini salah satu anggota ReLIEF pada masanya, dan kebetulan beliau diutus untuk menyampaikan stand up ekonomi di salah satu Universitas Terkenal di Yogyakarta. Ketika berkomedi, ternyata ngomongin tentang negeri yang korup ini, gara-gara ulah siapa. Sistem yang bobrok ini menghasilkan ekonomi yang tambal sulam. Islam mengatur sampe urusan tata kelola ekonomi. Itu yang disampaikan! Entah ini dibawakan model komedi atau enggak saya ga tau. Yang jelas mas ikhwan ini, menang juara 1, dan bisa mengharumkan nama kampus. Pemikiran Ekonomi Islam Mahzab Hamfara bisa tersampaikan dengan gaya bahasa yang dapat diterima, ideologis pula. Kan keren. 

    Saya jadi mikir, pemikiran Islam itu emang udah khas. Kenapa pemikiran yang khas ini ga kita bawa dalam setiap penyampaian dakwah kita. Metode dakwah Rasulullah itu udah khas. Rasul ga perlu komedi buat menyadarkan para sahabatnya masuk Islam. Rasul ga perlu eksis dulu supaya bisa diterima dan dikenal oleh masyarakat makkah n madinah. Rasul juga ga pernah memuji-muji dirinya sendiri, walaupun kita tau sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh beliau. Kita tau Rasul itu amanah, fatonah, siddiq, penyayang, sabar, baik hati, tegas dengan orang kafir, memuliakan wanita, berkata sopan, amar ma'ruf nahi munkar, menetapkan hukum syara', pemaaf dan tampan pula. Tapi, Rasul ga pernah sombong dengan kelebihan-kelebihan yang beliau punya. Yang dilakukan beliau justru umatnya, bagaimana nasib umatku setelah aku tidak ada, katanya sebelum wafatnya. Kenapa kita selalu mengesampingkan beliau. Yang sering kita ingat justru idola-idola kita, yang entah nantinya masuk surga atau neraka. Astagfirullah.

    Inilah yang saya katakan "mengutarakan dalam diam" dipostingan saya sebelumnya. Wanita itu makhluk yang berbeda dengan laki-laki. Wanita itu cenderung berperasaan dan laki-laki cenderung berlogika. Oleh karena itu Allah menciptkan perempuan dan laki-laki itu dengan karakter yang berbeda, tingkah laku yang berbeda, dan kebiasaan yang berbeda. Kedua jenis ini dapat disatukan hanya dalam ikatan pernikahan, supaya mereka bisa melengkapi satu sama lain, kekurangan dan kelebihan. Ga percaya, tanya kakak kelas anda yang udah pada nikah, atau orang tua anda, om anda, tante anda, dan siapapun yang udah nikah. 

    Wanita menangis bukan tanda dia lemah melainkan beban yang tak sanggup tertahankan hingga tertumpah melalui air mata. Marah-marahnya wanita tanda ia lagi BT atau kesel. Disaat keadaan mereka seperti itu, tidak disarankan untuk memberi nasihat, memberi komen, atau memberi celaan, yang akan semakin membuat hatinya panas dan membenci, karena memang reflek perasaan yang main. Yang saya sarankan adalah, biarkan dia menangis, dengarkan semua curhatannya, usahakan kita jadi pendengar setia dulu, jika memang itu kesalahan kita, cukup kita ucapkan kata MAAF kepada dia. Tanpa memberi embel-embel atau mengutarakan kesalahan-kesalahan yang telah dia lakukan kepada kita. Dijamin, kalo pake cara itu, justru akan membuat wanita semakin emosi. 

    Kita jadikan ini sebagai pelajaran buat kita. Agar tidak terulang lagi dan saling mengingatkan dengan cara yang ma'ruf. Mengakui kesalahan itu memang baik, tapi alangkah baiknya tidak mengulang kesalahan yang sama dan tidak membalas kesalahan orang lain untuk membela diri. Menundukkan hawa nafsu itu memang susah, apalagi baqo', tapi tidakkah selama ini kita pelajari bahwa yang memimpin kita adalah akal, bukan hawa nafsu. Cukup dengan kata "MAAF" dan "SAYA MAAFKAN" Insya Allah dusta diantara kita, tidak akan terjadi lagi. Sertakan Syaksiyah Islamiyah selalu teraplikasikan dalam aktifitas kita, ga cuma teori semata.

    23.33
    hamba yang khilaf, ida armala

1 komentar:

  1. eka nurul mengatakan...

    sipp lah tulisan ya...lanjutkan.

Search